Lika-liku pelaksanaan PPL PPG PGSD secara daring

Oleh: Sri Kurniasih
Rambupena.com.
Penulis adalah Mahasiswa PPG Prajabatan PGSD Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Tahun 2021.
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan muara dari semua kegiatan teori dan praktik bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan studi diperguruan tinggi khususnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Begitu juga sama halnya bagi para mahasiswa yang sedang menempuh Pendidikan Profesi Guru ( PPG ) termasuk saya sendiri yang merupakan salah satu peserta mahasiswa PPG Prajabatan PGSD Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tahun 2021 yang saat ini sedang melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan ( PPL ) secara daring di tempat saat ini saya bekerja yaitu di SD Negeri Arjowinangun, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.
Salah satu faktor dilaksanakannnya PPL secara daring adalah adanya virus Corona yang 2 tahun belakangan ini sedang menjadi permasalahan yang sangat mengkhawatirkan. Pada saat melaksanakan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan ( PPL ) banyak lika – liku yang harus dialami mulai dari keterbatasan fasilitas atau sarana prasarana yang tersedia di SD Negeri Arjowinangun baik dari Laptop yang kondisinya sudah kurang berfungsi dengan baik, proyektor yang tampilan layarnya bergaris sehingga kurang jelas dilihat oleh siswa bahkan sering terjadi mati secara tiba-tiba. Selain itu, keterbatasan jaringan internet juga menjadi faktor yang paling penting dalam menentukan kelancaran pelaksanaan praktik secara daring. Karena jaringan internet yang ada di SD Negeri Arjowinangun sinyalnya tidak sampai kelas, dan menggunakan paket data hp sinyalnya sangat lemah maka saya sampai menumpang jaringan internet milik salah satu warga yang dekat dengan sekolah. Bahkan untuk mendukung kegiatan praktik supaya berjalan lancar, saya sampai malam-malam pergi ke kota mencari mikrofon untuk digunakan praktik pagi harinya dan itupun tidak saya dapatkan sehingga saya mengambil alternatif dengan membeli headset Bluetooth dengan harapan dapat membantu kelancaran praktik terbimbing saya.
Dari semua keterbatasan tersebut, sangatlah mempengaruhi proses praktik terbimbing yang sedang dilaksanakan secara daring melalui gmeet dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pamong. Mulai dari kesulitan untuk masuk gmeet, suara ataupun interaksi dengan siswa kurang terdengar dengan jelas, bahkan tidak jarang jaringan internet terputus tiba-tiba pada saat melaksanakan praktik.
Akan tetapi, kendala yang saya alami selama melaksanakan praktik secara daring, tidaklah menyurutkan antusias dan semangat saya dalam menyelesaikan tugas praktik terbimbing, karena ini adalah salah satu usaha untuk menjadikan saya sebagai guru yang professional seperti yang diharapkan oleh pemerintah, apapun kendalanya akan dapat diatasi disetiap niat baik dan usaha kita. Oleh karena itu, jangan mudah menyerah dan harus selalu semangat untuk menjadikan diri kita layak dikatakan sebagai guru yang professional untuk menciptakan anak bangsa yang cerdas dan berkualitas meskipun kondisi daerah kita berada di daerah pedesaan yang jauh dari jaringan internet dan ketesediaan sarana prasarana juga masih sangat terbatas.(Rilis-Red).

